BAB I
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang
Ejaan Adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi
bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu bahas. Batasan
tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.
Mengeja adalah kegiatan melafalakan huruf, suku kata, atau kata, sedangakan ejaan
adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah
pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan
huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh
pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam
bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan
kejelasan makna. Ibarat sedang menyetir kendaraan, ejaan adalah rambu lalu
lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi
rambu itu, terciptalah lalu lintas yang tertib, teratur, dan tidak semrawut.
Seperti itulah kira – kira bentuk hubungan antara pemakai dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus
1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selam dua puluh
lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan
Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada
tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan
pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van Ophuysen (nama seorang guru besar
Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh
pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen
tidak berlaku lagi pada tahun 1947.
1.2.
Rumusan Masalah
Pada masalah ini, kami akan menjelaskan bagaimana cara
penggunaan tanda baca yang baik dan benar. Di sini kami menuliskan macam macam
tanda baca beserta aturan letak penggunaan dan fungsi dari macam-macam tanda
baca tersebut, sehingga kita bisa memahami bagaimana cara penggunaan tanda baca
yang baik dan benar, karena dalam aturan penggunaan tanda baca, banyak sekali
masalah masalah penulisan tanda baca yang kurang tepat sehingga terkadang sulit
untuk memahami isi tentang tulisan yang ditulis dalam sebuah karya tulis.
1.3
Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ruang lingkup EYD mencangkup lima aspek, yaitu:
1.
Pemakaian
Huruf
2.
Penulisan
Huruf
3.
Penulisan
KataP
4.
enulisan
unsure serapan
5.
Pemakaian Tanda Baca
1).
Pemakaian huruf membicarakan bagian-bagian dasar dari suatu bahasa, yaitu
1. Abjad
4. Pemenggalan
2.
Vokal
5. Nama Diri
3. Konsonan
2).
Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya
yang meliputi
1. Huruf Kapital
2. Huruf Miring
3).
Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya
berupa
1.
Kata
Dasar
2.
Kata Turunan
3.
Kata
Ulang
4.
Gabungan
Kata
5.
Kata
Ganti kau, ku, mu,dan nya
6.
Kata Depan di, ke, dan dari
7.
Kata Sandang si dan sang
8.
Partikel
9.
Singkatan
dan Akronim
10.
Angka
dan Lambang Bilangan
4).
Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan,
terutama kosa kata yang berasal dari bahasa asing.
5)
Pemakaian TANDA BACA (pungtuasi)
membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan dengan
kaidanya masing-masing.
Di
dalam hal ini, kita akan mempelajari ejaan yang nomor lima yaitu penggunaan
tanda baca
1.4.
Tujuan
Adapun tujuan yang ingin kami capai dari penulisan karya
tulis ini adalah:
1.
Dapat
memahami fungsi dari macam-macam tanda baca yang ada
2.
Dapat
memahami tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca
3.
Dapat
membuat sebuah karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar
4.
Dapat
memahami dan mengembangkan tulisan dengan tanda baca yang baik dan benar
1.5.
Manfaat
Dengan diselesaikanya makalah ini, kami dapat memberikan
manfaat antara lain
1.
Dapat
menulis karya ilmiah dengan Ejaan tanda baca yang benar
2.
Dapat
menggunakan tanda baca yang sesuai dengan konteks kalimat yang ada
3.
Dapat
memahami penggunaan tanda baca untuk menulis sebuah karya ilmiah yang baik dan
benar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pemakaian Tanda Baca
Dalam hal pembuatan karangan ilmiah, kesalahan huruf dan
tanda baca sering muncul. Dan di dalam penulisan tanda baca sering sekali kita
lalai dan melakukan kesalahan dalam penulisanya. Sehingga menjadikan karangan
atau karya ilmiah kita menjadi sebuah karya yang kurang baik karena ada
kesalahan dalam penulisanya. Dari berbagai kesalahan itu, sebenarnya para
penulis karya ilmiah mampu untuk membuat tulaisanya, akan tetapi mereka sering
lalai dan ceroboh dalam penggunaan tanda baca. Karena apa, tanda baca selalu di
anggap sepele dalam penggunaanya sehingga kadang menjadikan kalimat itu menjadi
rancu dan berbeda arti. Suatu contoh kita ambil kalimat “kucing makan tikus
mati”. Dalam konteks kalimat ini jika tidak kita beri pemisah tanda baca maka
akan menjadikanya sulit untuk dipahamai. Dari kalimat “kucing makan tikus mati”
siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?, akan tetapi apabila kita ganti
konteks kalimat ini dengan pemberian tanda baca seperti ini ”kucing makan,
tikus mati”, siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?, kemudian apabila
kita gunakan konteks kalimat ini ”kucing makan tikus, mati”, siapakah yang mati
dalam konteks kalimat ini?. Kucing makan tikus mati adalah salah satu contoh
kalimat yang banyak persepsi apabila kita salah menggunakan tanda bacanya. Oleh
karena itu, pemakaian tanda baca dalam penyusunan kalimat sangat perlu untuk
diperhatikan.
2.2.
Macam-macam tanda baca
Tanda tanda baca yang dipakai dalam penuisan yaitu:
1.
Tanda
titik(.)
2.
Tanda
koma(,)
3.
Tanda
titik koma(;)
4.
Tanda
titik dua (:)
5.
Tanda
hubung(-)
6.
Tanda
pisah (_)
7.
Tanda
elipis(…)
8.
Tanda
Tanya(?)
9.
Tanda
seru(!)
10.
Tanda
kurung((…))
11.
Tanda
kurung siku([…])
12.
Tanda
petik ganda(“…”)
13.
Tanda petik tunggal(‘…’)
14.
Tanda
garis miring(/)
15.
Tanda
penyingkat(‘)
2.3. Fungsi tanda baca
Dari macam-macam tanda baca yang telah disebutkan tadi,
masing masing tanda baca memiliki fungsi dan kegunaanya masing-masing.
Fungsi dari macam-macam tanda tersebut adalah:
2.3.1.
Tanda Titik (.)
1.
Tanda
titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku
tinggal di Solo.
Biarlah
mereka duduk di sana.
Dia
menanyakan siapa yang akan datang.
2.
Tanda
titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar.
Misalnya:
a.
III. Departemen Dalam Negeri
A.
Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B.
Direktorat Jenderal Agraria
1.
...
b.
1. Patokan Umum
1.1
Isi Karangan
1.2
Ilustrasi
1.2.1
Gambar Tangan
1.2.2
Tabel
1.2.3
Grafik
Catatan:
Tanda
titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau
ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka
atau huruf.
3.
Tanda
titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan
waktu.
Misalnya:
pukul
1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4.
Tanda
titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan
jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20
jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30
jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30
jam (30 detik)
5.
Tanda
titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan
tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar,
Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Poestaka.
6.
Tanda
titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Desa
itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa
yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
7.
Tanda
titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukan jumlah.
Misalnya:
Ia
lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat
halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor
gironya 5645678.
8.
Tanda
titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau
kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara
kunjungan Adam Malik
Bentuk
dan Kedaulatan (Bab I UUD ‘45)
Salah
Asuhan
9.
Tanda
titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat
atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan
Diponegoro 82 (tanpa titik)
Jakarta
(tanpa titik)
1
April 1985 (tanpa titik)
Yth.
Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Jalan
Arif 43 (tanpa titik)
Palembang
(tanpa titik)
Atau:
Kantor
Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan
Cikini 71 (tanpa titik)
Jakarta
(tanpa titik)
2.3.2.
Tanda Koma (,)
1.
Tanda
koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya
membeli kertas, pena, dan tinta.
Surat
biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
2.
Tanda
koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat serata
berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:
Saya
ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi
bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
3.
Tanda
koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat
itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau
hari hujan, saya tidak akan datang.
Karena
sibuk, ia lupa akan janjinya.
4.
Tanda
koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika
anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
Saya
tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia
lupa akan janjinya karena sibuk.
Dia
tahu bahwa soal itu penting.
5.
Tanda
koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang
terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi
pula,meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
...
Oleh karena itu, kita harus hati-hati.
...
Jadi, soalnya tidak semudah itu.
6.
Tanda
koma dipakai untuk memisahkan kata seperti kata seperti o, ya, wah, aduh,
kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
O,
begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati,
ya, nanti jatuh.
7.
Tanda
koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dari kalimat.
Misalnya:
Kata
Ibu, “ Saya gembira sekali.”
“Saya
gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”
8.
Tanda
koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat
dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis
berurutan.
Misalnya:
(i)
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Pakuan, Bogor.
(ii)
Sdr. Anwar, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
(iii)
Surabaya, 10 Mei 1960
(iv)
Kuala Lumpur, Malaysia.
9.
Tanda
koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar
pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana,
Sultan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2.
Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
10.
Tanda
koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk
membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B.
Ratulangi, S.E.
Ny.
Khadijah, M.A.
11.
Tanda
koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya:
Presiden
RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berkunjung ke Manado.
Semua
siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan
suara.
Bandingkan
dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua
siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
12.
Tanda
koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5
m
Rp
12,50
13.
Tanda
koma dapat dipakai––untuk menghindari salah baca––di belakang keterangan yang
terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam
pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang
bersungguh-sungguh.
Atas
bantuan Edyar, Agus mengucapkan terima kasih.
Bandingkan
dengan:
Kita
memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan
bahasa.
Agus
mengucapkan terima kasih atas bantuan Edyar.
14.
Tanda
koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan
tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya:
“
Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
“Berdiri
lurus-lurus!” perintahnya.
2.3.3.
Tanda Titik Koma (;)
1.
Tanda
titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis
dan setara.
Misalnya:
Malam
makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2.
Tanda
titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan
kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah
mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk memasak di dapur; Adik menghapal
nama-nama pahlawan nasional.
2.3.4.
Tanda Titik Dua (:)
1.
Tanda
titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Ketua
: Moch. Achyar
Sekretaris
: Tati Suryati
Bendahara
: Noviana Pertiwi
2.
Tanda
titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara
surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu
karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
(v)
Tempo, I (34), 1971:7
(vi)
Surah Yasin:9
(vii)
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
(viii)
Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta: Penebar
Swadaya.
3.
Titik
dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam
percakapan.
Misalnya:
Ayah
: “Karyo, sini kamu!”
Karyo
: (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”
Ayah
: “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”
4.
Titik
dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian
atau pemerian.
Misalnya:
Pak
Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi.
Kita
sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
2.3.5.
Tanda Hubung (-)
1.
Tanda
hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan yang terpisah oleh
pergantian baris.
Misalnya:
Walaupun demikian, masih banyak yang ti-dak mematuhi
peraturan tersebut, Industri tersebut dapat dikembangkan men-jadi industri
padat karya.
2.
Tanda
hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
Anak-anak,
kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur
3.
Tanda
hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian
tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
17-08-1945
4.
Tanda
hubung dipakai untuk merangkaikan kata dengan kata berikutnya atau sebelumnya
yang dimulai dengan huruf kapital, kata/huruf dengan angka, angka dengan
kata/huruf.
Misalnya:
se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2,
S-1, tahun 50-an
5.
Tanda
hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa
asing.
Misalnya:
di-smash,
pen-tackle-an
2.3.6.
Tanda Pisah
1.
Tanda
pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar
bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan
bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.
Tanda
pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga
kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian
temuan ini––evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom––telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
3.
Tanda
pisah dipakai di antara dua bilangan atau kata dengan arti ‘sampai dengan’ atau
‘sampai ke’.
Misalnya:
2004––2009
tanggal
1––10 Mei 2007
Jakarta––Bandung
2.3.7.
Tanda Elipsis (...)
1.
Tanda
elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus.
Misalnya:
Kalau
begitu ... ya, ayo kita berangkat.
2.
Tanda
elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang
dihilangkan.
Misalnya:
...
selanjutnya akan di bawa ke pengadilan.
Ibu
baru pulang ... pasar.
Catatan:
Jika
bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu dipakai empat
buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan satu titik untuk
menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Ibu
baru pulang dari....
2.3.8.
Tanda Tanya
1.
Tanda
tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan
ia berangkat?
Saudara
tahu, bukan?
2.
Tanda
tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan
kebenarannya.
Misalnya:
Ia
dilahirkan pada tahun 1983 (?).
Uangnya
sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
2.3.9.
Tanda Seru (!)
1.
Tanda
seru dipakai pada akhir kalimat printah.
Misalnya:
Bersihkan
kamar itu sekarang juga!
Jangan
berisik!
2.
Tanda
seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang menggambarkan
kesungguhan, ketidakpercayaan, ketakjuban, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah
seramnya peristiwa itu!
Indah
sekali pemandangan alam ini!
Merdeka!
2.3.10.
Tanda Kurung ((...))
1.
Tanda
kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Komisi
A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program Kerja) dalam sidang
pleno tersebut.
2.
Tanda
kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok
pembicaraan.
Misalnya:
Keterangan
itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan per-ekonomian Indonesia lima
tahun terakhir.
3.
Tanda
kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
Faktor
produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
4.
Tanda
kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat
dihilangkan.
Misalnya:
Kata
cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
Sahrul
Gunawan berasal dari (kota) Bogor.
2.3.11.
Tanda Kurung Siku ([...])
1.
Tanda
kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai korekssi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu
menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah
asli.
Misalnya:
Sang
Puteri men[d]engar bunyi gemerisik.
2.
Tanda
kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.
Misalnya:
Persamaan
kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman
35––38]) perlu dibentangkan di sini.
2.3.12.
Tanda Petik (“...”)
1.
Tanda
petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau
bahan tertulis lainnya.
Misalnya:
“Saya
belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
Pasal
36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
2.
Tanda
petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak
“Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu.
Karangan
Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA”
diterbitkan dalam harian Tempo.
3.
Tanda
petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti
khusus.
Misalnya:
Saat
ini ia sedang tidak mempunyai pacar yang di kalangan remaja dikenal dengan
“jomblo”.
Karena
warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
2.3.13.
Tanda Petik Tunggal (‘...’)
1.
Tanda
petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya
Basri, Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Waktu
kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa
letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
2.
Tanda
petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan
asing.
Misalnya:
Feed-back
berarti ‘balikan’.
2.3.14.
Tanda Garis Miring (/)
1.
Tanda
garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan
masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
No.
12/PK/2005
Jalan
Kramat III/10
Masa
Bakti 2005/2006
Tahun
Ajaran 2006/2007
2.
Tanda
garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
Laki-laki/Perempuan
120
km/jam
2.3.15.
Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda
penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
Gunung
pun ‘kan kudaki. (‘kan = akan)
17
Agustus ’45 (’45 = 1945)
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
1. Penggunaan tanda baca perlu
diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah.
2. Masing masing tanda baca memiliki
aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita harus cermat dalam
menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang telah di
tetapkan.
3. Penggunaan ejaan yang disempurnakan
(E Y D) sangat dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya
tulis ilmiah tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.
Ø Dari berbagai macam kesimpulan, maka
penggunaan tanda baca perlu untuk dipahami dan dipelajari lebih detail agar
penggunaan tanda baca pada karya ilmiah yang kita buat menjadi benar dan mudah
dipahami oleh orang-orang yang akan membaca karya tulis kita.
3.2. Penutup
Dari tugas makalah tersebut, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti
halnya yang sudah kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah
ini, yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan
kita dan pemahaman kita mengenai pengguanaan tanda baca yang baik dan benar
yang tentu saja sesuai dengan EYD.
Dan demikian makalah yang dapat kami buat. Apabila ada kata-kata yang kurang
berkenan di hati atau belum sesuai dengan apa yang Anda harapkan, kami mohon
maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun kami agar
dalam tugas-tugas selanjutnya,kami dapat menyelesaikannya dengan lebih baik
lagi.